Diplomasi Public Dan Soft Power dalam Politik Luar Negeri R.I Era SBY
Diplomasi publik merupakan salah satu instrumen politik luar negeri yang relatif baru dilaksanakan di Indonesia khususnya dalam era pemerintahan SBY. Badan yang menaungi diplomasi publik ini yakni dalam Departemen Luar Negeri RI yang dijalankan oleh Sub-Direktorat Diplomasi Publik (Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik). Berdasarkan agenda yang telah dilakukan Direktorat Diplomasi Publik RI menunjukan bahwa Direktorat ini banyak melakukan kegiatan, yang salah satunya yakni interfaith dialogue yang dilakukan dibeberapa tempat. Program interfaith dialogues yang diselenggarakan pada tahun 2004-2006 merupakan wujud konkret diplomasi publik politik luar negeri Indonesis era SBY. Interfaith dialogue sebagai wujud dari diplomasi publik RI merupakan salah satu track dari multitrack diplomacy, yaitu track seven atau peacemaking through faith in action. Tujuan penting dari track ini adalah mencapai perdamaian melalui aktivitas keagamaan, baik secara intrareligi ataupun interreligi (Diamond 1996).
Interfaith dialogue secara eksplisit bertujuan untuk mengubah image Indonesia yang dalam beberapa waktu yang lalu sempat dicap sebagai ladang terrorism menjadi negara yang memberikan kesempatan berdiskusi antar agama untuk berkontribusi dalam menjaga perdamaian dunia. Diawali pada tanggal 23-25 Februari 2004 dengan kegiatan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) I di Jakarta menjadi cikal bakal dialog antar kepercayaan. Pada tahun 2005, muncul tiga kegiatan interfaith dialogue sebagai bentuk kontinuitas dari Dialogue on Interfaith Conference, yaitu Bali (Asia-Europe Meeting) Interfaith Dialogue di Bali, 21-22 Juli 2005 dan Interfaith Dialogue “Islam in Pluralistic Society di Vatikan, 30 September 2005 serta di Melbourne pada 27-30 September 2005. Agenda kegiatan berikutnya yakni Cebu Dialogue on Regional Interfaith “Cooperation for Peace, Development, and Human Dignity yang dilaksanakan di Cebu, Filipina, 14-16 Maret 2006. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Philippines Department of Foreign Affairs atas dukungan dari Departemen Luar Negeri RI. Yang menarik disini bahwa forum ini merupakan sebuah forum regional yang memiliki implikasi luas, karena dihadiri oleh perwakilan negara Asia-Pasifik. Sebelum pelaksanaan dialog, Deplu menyelenggarakan Foreign Policy Breakfast dengan para tokoh agama dari Indonesia yang mengikuti kegiatan tersebut.
Dengan interfaith dialogue akan membuka jalan bagi peningkatan bargaining position Indonesia di dunia diplomasi, khususnya PBB. Namun, ukuran kontinuitas dari interfaith dialogue ini juga masih harus dibuktikan karena memerlukan political will dari pemerintah untuk tetap melaksanakan agenda secara sustainable dan konsisten. Agenda interfaith dialogue, jika kita analisis lebih dalam, memiliki dua implikasi positif terhadap posisi Indonesia di mata publik internasional. Pertama, membaiknya citra Indonesia di mata publik internasional. Setelah sempat mengalami penurunan di akhir dekade 1990-an, diplomasi Indonesia dapat kembali bangkit di dunia dengan berbagai agenda diplomasi. Indonesia dapat memanfaatkan political capital yang dimiliki sebagai soft power: negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, salah satu negara demokratis di dunia ketiga, dan negara yang cukup sukses dalam beberapa resolusi konflik.
Implikasi kedua yakni menciptakan soft power Indonesia dalam diplomasi. Presiden SBY sejak awal telah meletakkan komitmen untuk melakukan kerjasama strategis dengan negara-negara lain dengan menghindari konflik. Politik luar negeri RI telah disetting dengan good neighbour policy dengan membangun jaringan relasi yang baik, juga dengan inovasi untuk mencapai kepentingan nasional (Djalal, 2008). Soft power ini dapat digunakan untuk mencapai kepentingan nasional Indonesia. Dengan soft power, Indonesia sebenarnya dapat lebih memperjuangkan kepentingan nasional di Dewan Keamanan PBB. Indonesia dapat menjadi salah satu kekuatan vital bagi terciptanya perdamaian dunia di tengah iklim unipolaritas dunia. Maka, interfaith dialogue harus benar-benar dioptimalkan sebagai sarana untuk meraih kepentingan nasional Indonesia dan mendapatkan soft power yang positif bagi negara lain.
DAFTAR PUSTAKA
- http://www.dfa.gov. => Philippines Department of Foreign Affairs. Press Release (PS037-AGR-036): Building The Momentum For Peace
- http://www.deplu.go.id => Cebu Dialogue on Regional Interfaith Cooperation for Peace, Development and Human Dignity, tanggal 14-16 Maret 2006 di Cebu, Filipina (Siaran Pers).